Monday, 12 November 2018

Sepak Terjang Speed Instinct Dalam Skena Musik Makassar



Speed Instinct adalah band Rapper Rock dengan sikap cenderung acuh tak acuh pada penilaian orang, kata Dennis (gitaris). Sebuah sikap yang memang biasanya dimiliki oleh band-band yang beraliran keras. Berbicara soal sejarah, Dennis Project adalah nama awal dari Speed Instinct. Pergantian nama yang menunjukkan keinginan Denis melepas ego untuk menghindari lebih banyak konflik seperti salah satu judul lagunya, No More Drama. Band yang sudah bertahan terhitung 6 tahun ini melepas album penuh di tahun 2014 berjudul "Real Eyes, Realize Real Lies", dilanjutkan sebuah single berjudul Lost in Civilization setahun berikutnya. Mereka menunjukkan tingkat produktifitas yang tinggi dengan sedikit bocoran informasi dari Dennis yang mengatakan mereka sedang menyiapkan album kedua di penghujung tahun ini. Sebuah hal yang patut ditunggu. Untuk urusan platform musik digital, lagu-lagu Speed Instinct bisa didengarkan melalui Soundcloud.

Bersama Berkarya Bebas masih menjadi rumah bagi band lokal asal Makassar. Kemauan mereka menggunakan band lokal untuk mengisi acara yang mereka selenggarakan kerap mematangkan niat bagi band lokal bahwa apa yang mereka kerjakan selama ini sudah benar dan patut diapresiasi. Massive Loudness, Road to Soundrenaline, Sound of LibeArt, dan lain sebagainya adalah bukti kecil betapa mereka dekat dengan band lokal. Speed Instinct salah satunya.


Speed Instinct saat bermain di Massive Loudness

Sejak awal, Speed Instinct selalu mendukung penuh apapun program yang diadakan oleh Bersama Berkarya Bebas karena kesamaan dan keterikatan yang mereka miliki, Speed Instinct sebagai pemusik, Bersama Berkarya Bebas sebagai wadahnya. Kata Dennis, "selama kita sevisi-misi dan saling menguntungkan, kenapa tidak?".

Kerjasama mereka dimulai di Massive Loudness. Sebuah kegiatan yang menampilkan beberapa band lokal sebagai penghibur di tengah-tengah aktifitas memotret dan menggambar yang dilakukan oleh para penggiat potografi dan visual art. Sebuah kesempatan yang dimanfaatkan dengan baik oleh Speed Instinct dalam memperdengarkan hasil kerja keras mereka selama ini dihadapan penggiat multiseni dan penonton umum lainnya. Kerjasama yang terus berlanjut hingga di Be Everything dimana Speed Instinct diwakili oleh Dennis sebagai penggiat musik mencoba menerima tantangan menjadi Be Everything dan melampaui batas melalui gambar yang merupakan bagian dari subcultur art dengan menggambar Logo Band Kenamaan Pink Floyd


Share:

Sunday, 4 November 2018

Bersama Berkarya Bebas di Mata Secondline


Secondline, mereka menyebut diri Secondline (baca: lini kedua). Band british pop asal Makassar yang sudah merilis sebuah album berjudul Serdadu Pelangi ini menamakan diri Secondline sebagai pegangan bahwa posisi bermusik bagi mereka tetap pilihan kedua setelah pekerjaan utama masing-masing personil. Tapi, mereka jelas bukan grup musik yang sebercanda hanya pilihan kedua. Bagi band yang bergerak indiependent sebuah rilisan fisik bisa jadi bukti keseriusan. Apalagi, kata Dedi sang Bassis, dari ratusan CD yang dilepas Agustus 2017 kemarin kini tersisa 2 buah CD yang mereka simpan untuk koleksi pribadi. Bukti bahwa musik mereka-pun diterima khalayak. Dari total 5 buah lagu yang ada di album Serdadu Pelangi, Dedy mengatakan bahwa lagu Hitam Beranjak Putih jadi lagu paling disukai oleh pendengar mereka, meskipun secara pribadi, anak-anak Secondline sendiri menjadikan Serdadu Pelangi sebagai garda terdepan ketika bermain live. Band yang lahir bulan April 2016 ini sekarang terdiri dari Arhy pada Vokal, Tri di gitar, Dedy di bass, dan Irceal di drum juga telah memasukkan album Serdadu Pelangi di platform musik digital seperti Joox, Spotify, dan lain sebagainya. Jadi, tak ada alasan lagi bagi kalian (baca; pedengar musik) untuk tak pernah sekalipun mendengarkan lagu mereka. 

Secondline saat ini sedang dekat-dekatnya dengan Bersama Berkarya Bebas, sebuah movement yang mengumpulkan penggiat musik, visual art hingga potografer dalam satu tempat untuk saling berinteraksi dan menunjukkan karyanya. Kedekatan mereka bisa dibuktikan dari setiap program yang dibuat oleh Bersama Berkarya Bebas selalu diikuti oleh personil dari Secondline. Saat ditanya mengenai pandangan perihal adanya Bersama Berkarya Bebas, Dedy sang bassis melepas senyum. Senyum yang dilanjutkan dengan kalimat cukup panjang. Katanya, Bersama Berkarya Bebas ini sangat bermanfaat bagi band Indiependent seperti kami dalam memperkenalkan album kami, Serdadu Pelangi. Kemauan mereka dalam mewadahi beberapa sub culture memudahkan kami mendapatkan pendengar dari segala macam kalangan. Karena mereka pula, kami bisa mendapat teman-teman baru dari subculture yang berbeda dengan kami seperti pelaku visual art dan potografi. Bahkan, terbuka lebar kesempatan untuk menyatukan perbedaan subculture ini menjadi sebuah karya yang unik dan istimewa. Bersama Berkarya Bebas ini seperti do'a yang terkabul bagi kami yang sudah sejak lama ingin membuat event-event musik yang bisa menjadi pesta tersendiri bagi para band-band Indiependent, bahkan mereka mampu membuat kami sepanggung dengan band yang sudah lebih dulu terkenal. Road to Soundrenaline kami sepanggung dengan Sheila on 7, lalu terbaru kami berbagi panggung dengan Peeweegaskins di Pekan Raya Pemuda Sulsel. Terkhusus Road to Soundrenaline, kami merasa sangat senang bisa manggung dihadapan penonton yang tembus angka 26.000 orang.



Secondline saat bermain di Road to Soundrenaline



Kedekatan Bersama Berkarya Bebas dan Secondline yang terbaru bisa dilihat di program Be Everything di penghujung Oktober kemarin. Sebuah program yang mengumpulkan semua subculture (musik, visual art dan potografi) dalam satu tempat dan memberikan tantangan agar para pelaku sebuah subculture mencoba subculture lainnya. Secondline di Be Everything diwakili oleh Ary (Vocalis) yang menjawab tantangan dengan mencoba subculture visual art. Ary melukis spongebob squarepants disebuah kanvas. Meski spongebob squarepants-nya  tak sebagus hasil visual art dari para pelaku ahlinya, tapi kemauan Ary mencoba subculture lain membuktikan bahwa jika kita mau, kita mampu melampaui batas dan Be Everything. 


Ary saat menggambar Spongebob Squarepants.
Share:

Thursday, 1 November 2018

DISTORSI PESISIR







Distorsi menggambarkan musik keras menurut awam. Apalagi jika menilik Distorsi Pesisir yang digarap teman-teman Wonomulyo Metal Sindicate. Chaos, sudah pasti chaos, anggapannya. Keras, sudah pasti band keras yang main. Tapi, jika anda salah satu dari sekian banyak orang yang datang pada pagelaran musik tersebut, anda pasti punya pandangan lain. Mereka keras tapi punya sentuhan lembut. Sisi lembut yang bisa di rasakan dari belaian sepoi angin yang ada disekitar lokasi. Belum lagi, suguhan yang ditawarkan para pemusik malam hari dari teman-teman yang bergenre Folk seperti Dika Putri dan Cerita Senja.

Kali ini, teman-teman Wonomulyo Metal Sindicate atau lebih dikenal dengan WMS membuka diri dengan mengundang beberapa band yang memang bermain diluar Underground seperti Eroepsi, Final Expectation, Insentik dan beberapa band lainnya. Distorsi Pesisir ini menawarkan kehangatan dan waktu luang bagi semua elemen untuk saling mengenal lebih jauh dengan adanya camp-camp yang disediakan panitia bagi siapapun yang bersedia menginap, registrasi  tentunya demi keselamatan ekonomi semua umat. Selain itu, tenant-tenant makanan siap memuaskan lapar serta dahaga anda dengan pelayanan yang ramah seramah warga sekitar yang mendukung penuh acara tersebut.

Jauh-jauh hari, sudah diinfokan bahwa WMS akan membuat sebuah suguhan musik degan konsep baru di Sulawesi Barat. Mereka mengusung Distorsi Pesisir dan Music camp, sehabis menikmati musik ada sesi senda gurau yang panjang dari opsi ngecamp, saling kenal karena cerita semalam suntuk bahkan jadianpun tak masalah. Tentunya jangan lupa ngopi sambil sebat-dubat asap menyenangkan.

Namun, pepatah bahwa kita yang merencanakan Tuhan yang memutuskan benar adanya. Rundown acara yang mengatakan  seharusnya semua sudah dimulai sejak pukul 13.00 Wita diundur hingga 21.40 Wita akibat hujan yang tak kunjung reda. Beberapa band mengkonfirmasi batal tampil karena alasan tertentu. Panitia pelaksana pun sempat down sebelum kerasukan ide," Semua sudah kepalang tanggung". Acara tetap berlanjut bahkan panas dari awal setelah duo MC kocak Khaidir dan Dhian Pelangi memanggil Badut Punk dan Comme Punk, seketika itu juga Badut Punk dan Comme Punk mampu memeras keringat gerombolan punk-ers yang senang adu jotos tapi tetap tertawa. Semua sudah jadi rutinitas tentunya bagi mereka. Setelah itu, Serotonin sedikit menurunkan tensi dilanjutkan oleh Varial Flip sebelum ditutup beringas oleh Tendangan Bebas. Dari mata penonton mereka terlihat terhibur, sebuah pergantian hiburan tentunya setelah mereka terlalu sering dangdutan.



Setelah semalam suntuk dengan urusan kemanusiaan, Distorsi Pesisir ditutup dengan urusan menjaga lingkungan. Panitia serta beberapa band yang memilih menginap melakukan bakti sosial agar datang lokasi bersih, pulang tak boleh tak bersih. Belum terlihat kelelahan di mata panitia, belum sampai mereka sampai di kasur pembaringan masing-masing, lur.


Sebagai penutup, mari kita berharap ada semangat yang tak kunjung padam dari para panitia agar kita disuguhkan kembali Distorsi Pesisir Tahun depan. Tentunya dengan beragam evaluasi agar acara yang terhitung sukses ini bisa lebih sukses lagi kedepannya. Dan, titip salam pada hujan, jangan senang berlama-lama ketika acara tiba ~




Share:

Sunday, 2 September 2018

TENDANGAN BEBAS

HARDCORE BUKANLAH GENRE MUSIK MELAINKAN GAYA HIDUP.

Bicara hardcore adalah bicara tentang persahabatan, solidaritas, dan prinsip perlawanan kepada segala sesuatu yang dinilai mapan. Penikmat dan pelaku hardcore generasi lama tentu paham betul mengenai hal ini, karena pada era musik apapun sebuah generasi tumbuh dan kembang, akan selalu ada alasan kenapa seseorang memilih untuk berada pada jalur musik tertentu. Alasan-alasan yang ada di atas, menempati posisi paling puncak ketika HC-Kids — salah satu sebutan untuk penggemar musik hardcore — ditanya "kenapa memilih untuk suka musik hardcore". Dan ketika generasi lama ditanya perihal “seberapa bermakna hardcore dalam kehidupan kalian” tentu jawaban mereka adalah “Entah, apakah hardcore berarti hidup untuk saya; atau gaya hidup saya, hidup yang memang harus didedikasikan untuk hardcore"





Sebelum lebih jauh, mari kita ulas sedikit tentang Tendangan Bebas. Tendangan Bebas adalah band Hardcore asal Wonomulyo, Polewali Mandar yang berdiri awal 2015 yang diprakarsai oleh Iwan, Arwan dan Ahmad. Tendangan bebas ini adalah salah satu band yang berada di bawah naungan WMS (Wonomulyo Metal Syndicate), sebuah komunitas yang berisi pemuda-pemudi Wonomulyo yang memang senang mendengarkan lagu dari band- band yang beraliran keras. Band yang saat ini sudah beranggotakan 5 orang dengan masuknya Rahmat Riadi dan Ayub kini telah memiliki single berjudul Free Kick yang bisa di dengarkan via CD karena lagu tersebut berhasil masuk dalam album kompilasi Celebes Extreme Compilation yang CD-nya sudah di edar sampai luar pulau Sulawesi. Selain itu, lagu baru juga sedang mereka siapkan sebagai amunisi untuk ber-hardcore-ria.

Budaya adalah siklus berulang. Apa yang kini kita lihat dan maknai sebagai budaya, bukan tidak mungkin adalah kemasan daur ulang dari hasil pemikiran generasi sebelumnya. Pun dengan budaya Hardcore yang kini sedang (kembali) merebak di kalangan generasi muda. Di tengah ‘badai invasi’ budaya kekinian (K-Pop, J-Pop, Brit-Pop, American Style, dsb), ada sebagian kecil golongan yang menciptakan budaya tandingan alih-alih mengikuti budaya yang sudah ada. Semangat inilah yang mendasari sebagian generasi muda yang kini self-proclaimed sebagai “anak-Hardcore”; semangat pembangkangan atau bentuk perlawanan atas segala sesuatu yang dinilai mapan/umum. Setidaknya, seperti itu penjelasan ketika kami dari pihak penulis bertanya soal apa itu Hardcore di mata sang vokalis Tendangan Bebas, Arwan. 

Saat ini  band-band baru bergenre Hardcore mungkin tidak sebanyak band bergenre lain yang terbentuk jika berbicara skala Sulawesi Barat, tetapi itu bukan masalah buat kami. Adapun ketika ditanya mengenai target ke depannya, Arwan menjawab bahwa mereka tidak memiliki target sama sekali. Hardcore adalah jiwa kami. Jadi, kami akan tetap ber-Hardcore-ria apapun yang terjadi. Persetan dengan jarangnya band-band baru beraliran Hardcore karena terbawa arus musik kekinian yang mendayu-dayu. Selama festival musik seperti Metalilingan (Toraja), Brother for Brother (Makassar), dan banyak lagi tetap ada, maka kami akan tetap berpesta di jalan kami sendiri.

Note : Penulisan "bukanlah" dalam judul adalah penegasan betapa hardcore bagi para pecinta dan pelakunya tidak hanya sekedar pada genre musiknya tapi merasuk sampai ke gaya hidup.
Share:

Friday, 10 August 2018

ROMANTICK

Kami mungkin menjadi salah satu band  jika tak bisa disebut satu-satunya yang masih setia dengan genre Japanese Rock  yang berasal dari Sulawesi Barat.



Namanya Romantick, band asal Kabupaten Majene yang sudah terbentuk sejak 2012. Band yang dulu sering mengikuti festival musik dan berhasil mendapat beberapa penghargaan ini sedikit banyak telah berubah seiring umur band mereka yang juga terus bertambah. Sebagai grup band mereka mulai membentuk jati diri mereka dengan membuat lagu ciptaan sendiri. Terhitung hingga pertengahan 2018 ini, mereka sudah membuat 5 buah lagu yang terdiri dari Masih menginginkanmu, Dilema hati, Ku ingin bernyanyi, Ampuni Aku dan Berharap Jawaban. Bahkan band yang terdiri dari Adhe (bassis), Masdar hamka (gitaris), Ichie (vokalis) dan Celoe (drummer) ini baru saja merilis video klip dari lagu Dilema Hati yang bekerja sama dengan Galeri Mandar Production dalam proses pembuatannya. Hingga tulisan ini di muat, video klip mereka sudah ditonton sebanyak 1.417x di kanal youtube mereka. 


Untuk melihat video klip pertama mereka bisa klik link ini : https://youtu.be/TI8TJ65-U94

Saat ditanya soal proses penyebaran lagu mereka, Ichie sang vokalis berkata bahwa mereka saat ini menyebarkan lagu mereka lewat HMII (Himpunan Musisi Indie Indonesia) yang terkhusus di Jakarta tapi sudah mencakup seluruh musisi indie di seluruh indonesia 

Kedepannya tentu kami berharap bahwa Romantick akan melakukan rilisan fisik dan memantik penggiat musik di Sulawesi Barat untuk lebih bergelora dan tentunya tetap kondusif.
Share:

Monday, 6 August 2018

PERUBAHAN ARAH ANGIN BAND INDIEPENDENT


Setahun belakangan terdengar riak-riak kecil dari band yang mengatasnamakan indiependent. Dari yang bergerak “sendiri-sendiri” hingga akhirnya bertemu dan membentuk gigs kolektifan. Dari yang perlahan-lahan memainkan 1 buah lagu hingga 3 bahkan 4 lagu. Dari pergerakan awal Teras Indie di 2016 yang dimulai oleh Kaze dan Aksi Madewa yang memainkan lagu mereka sendiri hingga munculnya Zona Bunyi Merdekakan Karya di 2017, dan yang terbaru Zona Bunyi Gemakan Karya dan Teras Indie Mamuju di 2018 dengan line up yang lebih banyak. Terhitung, sudah lumayan banyak band-band baru yang mengatasnamakan Indie seperti Once Again, Toriny, For Metamorfosis, Varial Flip, Serotonin, Symphony, Alien Lokal dan Starlight. Juga, munculnya beberapa solois seperti Ian Ms dan Awal. Belum lagi, band-band lama seperti Impossible, Rotten Sickness, TBHC dan Allface. Bisa dibilang, perlahan tapi pasti virus berindie-ria sudah masuk hingga ke Sulawesi Barat sebagai perpanjangan tangan dari makin banyaknya band-band keren di Provinsi lain yang bermain diluar wilayah label major. Musikmaniapun seakan sudah beralih dari kebiasaan dicucuki music yang "harus begini" oleh label major. 

Makin banyaknya band indie yang muncul di Sulawesi Barat tentu makin melambungkan asa untuk mendapatkan lebih banyak tempat memperdengarkan karya-karya mereka di daerah sendiri. Selain acara-acara kolektifan, sudah saatnya mereka mendapatkan peluang bermain dihadapan lebih banyak pendengar. Sudah saatnya memperbanyak festival music nonkompetisi seperti Assamaleuwang Rock Invasion. Sudah saatnya radio-radio local memperbanyak interview tentang band indie local. Sudah saatnya memberdayakan label-label rekaman local. Daaaan, melihat Kaze yang mendapat undangan dan bisa bermain di acara sekelas Polewali Mandar International Folk and Art Festival (PIFAF) tentu mejadi secercah harapan. Harapan bahwa kedepannya akan lebih banyak sorotan kepada pelaku music indie. Apalagi, dengan semakin seringnya band-band indie diberi ruang memperdengarkan karyanya tentu akan membangun stigma di kalangan masyarakat bahwa pelaku music local juga punya karya yang baik.




Perubahan arah angin yang didapatkan oleh band indiependent saat ini diharapkan mampu membangun iklim musik yang lebih positif lagi kedepannya. Masih minimnya record store : jika tak mau dibilang tak ada, tentu menjadi salah satu contoh bahwa apa yang ada saat ini belumlah maksimal. 

Share:

Sunday, 8 July 2018

BELAJAR DARI BERSAMA BERKARYA BEBAS DAN MENGENAL INDIEPENDENT ALA IGA MASSARDI


Bersama berkarya bebas adalah sebuah pergerakan yang berasal dari Sulawesi Selatan yang menaungi segala bentuk seni baik itu gambar maupun suara. Bisa dilihat dari setiap kegiatannya yang mampu menginisiasi para pelaku mural, pelaku musik hingga videografi. Mereka mampu menjadi sebuah kesatuan yang solid. Tentunya, ini masih berbeda jauh dengan kita yang berdomisili di Sulawesi Barat. Belum ada komunitas mural. Videografi pun masih cenderung angin-anginan. Sedikit ada harapan untuk pelaku musik dengan mulai adanya gigs-gigs yang mereka buat secara bersama-sama. Tapi, belum sepenuhnya. Masih tercium bau-bau egoisme atau mungkin malu untuk menjadi seutuhnya dengan berbaur sesama pelaku musik.



Hari ini (kemarin) , Bersama Berkarya Bebas mengadakan sebuah workshop bertema Mensiasati Industri Musik di Era Modern dengan pemateri Iga Massardi dari Barasuara. Barasuara adalah salah satu band skala nasional yang kerap dianggap sebagai salah satu band Indie paling sukses saat ini. Namun, Iga Massardi menolak anggapan tersebut. Menurutnya, Indiependent itu adalah sebuah cara, dimana sebuah band mengerjakan semua hal baik itu rekaman, membuat album hingga distribusi dilakukan oleh mereka sendiri. Berbeda dengan Barasuara yang memiliki manajer untuk urusan distribusi  album dan menggaet sponsor serta label untuk urusan rekaman. Tapi, untuk urusan selera musik dan seperti apa lagu yang mereka buat sepenuhnya ditentukan oleh para personil Barasuara sendiri. Kemudian saat ditanya persoalan bagaimana cara membuat band agar tetap bertahan di tengah arus musik yang sering berubah-ubah,  Iga menjawab, "Jangan ikut-ikutan tapi adaptasi." Adaptasi maksudnya adalah dengan memasukkan musik yang saat ini tren (misal folk) dengan musik yang selama ini jadi ciri khas band kita, bukan malah berganti genre. Ada juga yang bertanya tentang masalah yang paling sering diperbincangkan oleh pelaku musik yang mulai berkarya, "Bagaimana cara membuat lagu yang disukai pasar tapi juga mampu mewakili apa yang kita rasakan? Dalam artian pendengar dapat idealisme kami juga dapat. " Iga menjawab, "Pasar itu yang mana sih? Ada yang bisa ngasi saya artian yang sedetail mungkin? Dari persoalan kelamin hingga jenjang umur?" Begini, persoalan pendengar itu apapun genre band anda pasti bakal ada yang dengar dan suka. Bikin saja lagunya. Jangan mikir macem-macem. Kalau musikmu berkualitas, bakal banyak yang suka kok.

Mensiasati Industri Musik di Era Modern. Seperti yang kita tahu, saat ini platform musik digital sedikit banyak telah menggeser musik dalam bentuk rilisan fisik. Joox, I-tunes, spotify dan sejenisnya sudah hampir ada di setiap ponsel pemuda-pemudi untuk memenuhi ketergantungan mendengarkan musik setiap harinya. Lantas, perlukah kita melupakan rilisan fisik dan fokus pada distribusi musik digital? Distribusi musik digital tentu lebih ekonomis. Tapi, selalu ada kesenangan sendiri jika memiliki rilisan fisik. Lebih mudah juga untuk berbagi kepada mereka yang gagap teknologi, tutup Iga.

Semua gambar berasal dari akun Bersama Berkarya Bebas. 
Share:

Friday, 6 July 2018

Once Again

Motivasi.  Lewat lagu ini kami ingin memotivasi teman-teman yang lain bahwa apapun masalahnya kita pasti bisa melaluinya.


(Once Again di Teras Indie Mamuju) 

Baru-baru ini sekelompok pemuda asal Kabupaten Majene merilis single pertama mereka yang berjudul Patahkan Logika. Lagu berbahasa Indonesia dengan lirik menyemangati ini dikemas dalam aransemen yang mereka sebut Metalcore. Band dengan nama Once Again ini juga menggandeng Rezki Jisefh, vokalis dari Kaze dan Impossible, untuk mengisi suara scream yang memperkuat nuansa "menghentaknya". Lagu ini sendiri sudah disebar gratis via platform musik Reverbnation.  Untuk urusan perform live, mereka sudah lintas daerah dengan memperdengarkan lagu mereka di Kabupaten Polewali Mandar dan Mamuju. 

Band yang terdiri dari Alan (vocal), Djani (guitar), Rachmat (bass) dan Asrhey (drum) ini terbentuk pada 7 Januari 2018. Band yang masih sangat dini namun cukup serius. Perkembangan terbaru, katanya mereka sedang sibuk merevisi 2 buah lagu untuk kembali di rekam nantinya.  Untuk urusan influence, mereka sering mendengar dan terpengaruh band-band seperti One Memphis, As A Lay Dying, Coldrain dan banyak lagi. Untuk berinteraksi dan mengetahui perkembangan terbaru dari Once Again, mereka sudah membuat akun instagram dengan nama Once_Again.

Mari menunggu lagu-lagu terbaru mereka. 
Share:

Thursday, 28 June 2018

KAZE

Kami selalu siap menabrak tembok pembatas. Kami tak pernah masalah jika harus jadi yang pertama. 



(Kaze di Soundsations 100 Kota 1 Bahasa) 


Tahun 2014 jadi awal langkah band asal Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar bernama Kaze. Band Alternatif Rock yang dibentuk Ayyub memulai mimpi dengan jalur indiependentnya. Sedikit demi sedikit mereka melalui proses pencarian materi hingga penulisan lagu demi membentuk identitas Kaze. Hingga akhirnya, pada akhir 2016 kemarin mereka berhasil menuangkan segala proses yang mereka lakukan dalam bentuk launching mini album berjudul Perjalan Masih Panjang sekaligus menjadikan mereka band pertama asal Sulawesi Barat yang melakukan rilisan fisik. Mini album ini sendiri terdiri dari beberapa lagu yaitu :

1.Biarkan Semua Berlalu
2.Pergilah
3.Perjalanan Masih Panjang
4.Cahaya
5.Andai Saja
6.White Knight
7.Cahaya (ost.Ultimate Glad)

Awal 2017 Kaze juga melakukan tour untuk memperkenalkan lagu-lagu mereka pada 5 titik di 3 kabupaten se-sulawesi Barat. Hingga saat ini,  mini album (EP) mereka sudah disebar di Sulawesi, Kalimantan hingga Jawa. Mini album mereka juga bisa di dengar pada platform musik digital reverbnation. 

Band yang saat ini terdiri dari Ayyub pada bass dan Rezki Jisefh di vokal baru saja melakukan perjalanan ke Makassar untuk merekam (kembali)  lagu Perjalanan Masih Panjang di Laboratorium Audio yang berhasil masuk dalam 5 besar album kompilasi Bersama Berkarya Bebas yang juga rangkaian Soundsations 100 Kota 1 Bahasa. Berkat lagu ini pula mereka mendapatkan kesempatan sebagai salah satu dari 10 band lokal SulselBar yang menjadi band pembuka untuk Kotak.

Dengan keproduktifan dan totalitas mereka dalam berindie-ria, membuat Kaze perlahan tapi pasti mematok nama mereka dalam garda terdepan band-band indie asal Sulawesi Barat yang patut dibanggakan.

Share:

Thursday, 14 June 2018

IAN MS

Keterbatasan bukanlah alasan untuk tidak berkarya



(IAN MS di Konser Gemakan Karya Zona Bunyi)

Mari berkenalan dengan solois introvert asal Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, bernama Ian MS. Solois yang merupakan gitaris dari Alien Lokal serta dalam beberapa kesempatan menjadi additional player gitar untuk Kaze ini mengusung genre Pop dengan sentuhan elektronik. Lelah, Hari Itu dan Detektif adalah beberapa lagu yang sudah bisa kita dengar gratis di akun reverbnationnya. 


Dengan pergerakan indie di Sulawesi Barat yang masih pada tahap berkembang, Ian MS sama halnya dengan solois-solois lain, jarang mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan karyanya di khalayak banyak. Padahal, dalam pandangan saya, Ian MS merupakan musisi potensial yang detail dalam pengerjaan lagu-lagunya. 

Saat ditanya persoalan mengapa memilih jalur solo ketimbang membentuk grup band, pria yang sedikit banyak dipengaruhi L'Arc~en~ciel ini berujar "Mencari personil yang sevisi misi dan mau berjuang itu susah. Daripada nanti ujung-ujungnya gonta-ganti personil mending jalan sendiri saja." Yeaah, sama saja dengan pendapat orang lain  yang dengan setengah bergurau berkata mencari personil itu lebih susah ketimbang mencari pacar.

Sebagai penutup, kalimat yang cocok dengan Ian MS adalah Keterbatasan bukanlah alasan untuk tidak berkarya. Jika tak punya teman, lakukan sendiri. 

Tetap produktif!
Share:

Monday, 11 June 2018

VARIAL FLIP

"...Kejarlah mimpimu walau setinggi langit."

Varial Flip. Band indie asal  Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat  yang terbentuk awal tahun 2017 menggertak! Dengan usia yang masih seumur jagung, mereka membuktikan satu langkah lebih maju dengan keberhasilan mereka menjadi 1 dari 10 band lokal asal Sulsel-Bar di Soundsation 100 Kota 1 Bahasa Pare-Pare dengan band utama KOTAK pada akhir April kemarin. 



 (Potret mereka di Soundsations 100 Kota 1 Bahasa)

Band yang digawangi Bakri pada Vokal/ Rhythm, Ias pada gitar, Ayi di bass dan Dani di drum saat ini sudah mempunyai beberapa lagu dalam format mp3 yang dilepas gratis pada platform musik reverbnation dan soundcloud berjudul Kawan, Berjalan di atas cobaan hingga yang terbaru dengan judul Mama. Berbekal semangat muda dan pantang menyerah, mereka berani kesana-kemari untuk memperkenalkan lagu-lagu mereka. Radio Venus dari Makassar bisa jadi bukti betapa giat mereka dalam hal promosi. Satu hal yang menjadi ciri khas band pop punk muda ini adalah persoalan broken home yang sering jadi bahan dalam penulisan lirik lagu mereka. 

Kejarlah mimpimu walau setinggi langit. Mereka seakan terikat pada semboyan tersebut dan tak berkecil hati dengan masih minimnya perhatian pada band indie apalagi dengan lokasi mereka yang jauh dari pusat kota. "Jalan saja dulu, kami patok 10 tahun lalu melihat seperti apa kami selanjutnya." Begitu kata Bakri ketika kami berdiskui santai persoalan target dan seberapa awet band mereka berada di jalur Indie. 

Mari berdo'a, mereka selalu produktif dan bisa berprestasi lebih banyak lagi.
Share: