Secondline, mereka menyebut diri Secondline (baca: lini kedua). Band british pop asal Makassar yang sudah merilis sebuah album berjudul Serdadu Pelangi ini menamakan diri Secondline sebagai pegangan bahwa posisi bermusik bagi mereka tetap pilihan kedua setelah pekerjaan utama masing-masing personil. Tapi, mereka jelas bukan grup musik yang sebercanda hanya pilihan kedua. Bagi band yang bergerak indiependent sebuah rilisan fisik bisa jadi bukti keseriusan. Apalagi, kata Dedi sang Bassis, dari ratusan CD yang dilepas Agustus 2017 kemarin kini tersisa 2 buah CD yang mereka simpan untuk koleksi pribadi. Bukti bahwa musik mereka-pun diterima khalayak. Dari total 5 buah lagu yang ada di album Serdadu Pelangi, Dedy mengatakan bahwa lagu Hitam Beranjak Putih jadi lagu paling disukai oleh pendengar mereka, meskipun secara pribadi, anak-anak Secondline sendiri menjadikan Serdadu Pelangi sebagai garda terdepan ketika bermain live. Band yang lahir bulan April 2016 ini sekarang terdiri dari Arhy pada
Vokal, Tri di gitar, Dedy di bass, dan Irceal di drum juga telah memasukkan album Serdadu Pelangi di platform musik digital seperti Joox, Spotify, dan lain sebagainya. Jadi, tak ada alasan lagi bagi kalian (baca; pedengar musik) untuk tak pernah sekalipun mendengarkan lagu mereka.
Secondline saat ini sedang dekat-dekatnya dengan Bersama Berkarya Bebas, sebuah movement yang mengumpulkan penggiat musik, visual art hingga potografer dalam satu tempat untuk saling berinteraksi dan menunjukkan karyanya. Kedekatan mereka bisa dibuktikan dari setiap program yang dibuat oleh Bersama Berkarya Bebas selalu diikuti oleh personil dari Secondline. Saat ditanya mengenai pandangan perihal adanya Bersama Berkarya Bebas, Dedy sang bassis melepas senyum. Senyum yang dilanjutkan dengan kalimat cukup panjang. Katanya, Bersama Berkarya Bebas ini sangat bermanfaat bagi band Indiependent seperti kami dalam memperkenalkan album kami, Serdadu Pelangi. Kemauan mereka dalam mewadahi beberapa sub culture memudahkan kami mendapatkan pendengar dari segala macam kalangan. Karena mereka pula, kami bisa mendapat teman-teman baru dari subculture yang berbeda dengan kami seperti pelaku visual art dan potografi. Bahkan, terbuka lebar kesempatan untuk menyatukan perbedaan subculture ini menjadi sebuah karya yang unik dan istimewa. Bersama Berkarya Bebas ini seperti do'a yang terkabul bagi kami yang sudah sejak lama ingin membuat event-event musik yang bisa menjadi pesta tersendiri bagi para band-band Indiependent, bahkan mereka mampu membuat kami sepanggung dengan band yang sudah lebih dulu terkenal. Road to Soundrenaline kami sepanggung dengan Sheila on 7, lalu terbaru kami berbagi panggung dengan Peeweegaskins di Pekan Raya Pemuda Sulsel. Terkhusus Road to Soundrenaline, kami merasa sangat senang bisa manggung dihadapan penonton yang tembus angka 26.000 orang.
![]() |
| Secondline saat bermain di Road to Soundrenaline |
Kedekatan Bersama Berkarya Bebas dan Secondline yang terbaru bisa dilihat di program Be Everything di penghujung Oktober kemarin. Sebuah program yang mengumpulkan semua subculture (musik, visual art dan potografi) dalam satu tempat dan memberikan tantangan agar para pelaku sebuah subculture mencoba subculture lainnya. Secondline di Be Everything diwakili oleh Ary (Vocalis) yang menjawab tantangan dengan mencoba subculture visual art. Ary melukis spongebob squarepants disebuah kanvas. Meski spongebob squarepants-nya tak sebagus hasil visual art dari para pelaku ahlinya, tapi kemauan Ary mencoba subculture lain membuktikan bahwa jika kita mau, kita mampu melampaui batas dan Be Everything.
![]() |
| Ary saat menggambar Spongebob Squarepants. |



0 comments:
Post a Comment