Tuesday, 19 November 2019

Speechles ala The Hungmid

Distorsi gitar dan bass yang dominan langsung disuguhkan sejak awal. Aksen vocalis dalam melagukan lirik yang sangat kebarat-baratan serta hentakan drum cukup membuat kepala mengangguk-angguk santai. Seperti itulah kira-kira gambaran ketika kita mendengarkan lagu The Hungmid berjudul Speechles.



The Hungmid adalah band asal Makassar yang beranggotakan Celio pada vokal, Dhio di gitar, Ryas sebagai bassis dan Alfian untuk drum. Saat ini, mereka sedang mengupgrade musikalitas mereka dengan memperbanyak jamming dan mendengarkan lagu-lagu band luar. Terbentuk sejak 2017 dan beberapa kali manggung di gigs lokal, sudah seharusnya mereka segera membuat album untuk menarik perhatian lebih pecinta musik Makassar.

Share:

Tuesday, 2 July 2019

Dika Putri dan Hadirmu Untukku



Dika Putri, solois muda asal Polewali Mandar membuka jalan musiknya dengan melepas sebuah single bergenre pop di awal Juli kemarin. Berbekal suara merdu, sentuhan gitar akustik minimalis dan lirik sederhana dari lagu Hadirmu Untukku membuka peluangnya merambah dunia musik di Sulawesi Barat yang selama ini dominan diisi oleh band. 

Dika Putri bisa dikatakan sebagai solois wanita pertama di masa milenial ini yang berani melepas sebuah single di kala belum adanya panggung khusus bagi seorang solois untuk memperdengarkan karyanya. Hadirmu Untukku saat ini sudah bisa didengarkan di akun Youtube Pribadi Dika Putri dan segera hadir di berbagai platform musik digital lainnya. 
Share:

Monday, 24 June 2019

Serotonin Melepas Debut Album Bertajuk Rangkum Resah



Serotonin adalah salah satu band asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Trio ini terdiri dari Iyuk (Bass), Mirzha (Vokal) dan Iyas (Gitar) yang berdiri sejak  tahun 2017. Mereka memulai karir musik mereka dengan melepas sebuah single berjudul Sound of Cecilia pada penghujung 2017. Dilanjutkan dengan melepas Nomophobia setahun berselang secara eksklusif di beberapa radio.

Mei kemarin, Serotonin menunjukkan keseriusan mereka dalam bermusik dengan melepas debut album berupa EP bertajuk Rangkum Resah. EP berisi 4 buah lagu ini bercerita tentang keresahan yang mereka alami dewasa ini. Sound of Cecilia yang sebelumnya sudah dilepas sebagai single jadi lagu pembuka. Satu-satunya lagu yang berbahasa Inggris dengan mengangkat tema cinta. Dilanjutkan dengan Nomophobia, sebuah lagu yang bercerita tentang budaya bermain gadget akut khas remaja milenial yang terkadang mengabaikan koneksi sosial dengan orang sekitarnya. Lalu ada Sisi Lain, lagu yang merangkum judul EP mereka. Bercerita tentang kegamangan manusia yang masih mempertanyakan tujuan hidupnya setelah merasa bosan akan hidup yang dijalani sebatas rutinitas semata. Senyap, yang jadi lagu penutup bercerita tentang hubungan manusia di titik terendah yang sering hanya saling melempar diam ketika sedang ada masalah. Secara aransemen, EP ini terdengar mengusung genre pop punk meski tak secepat band pop punk lainnya dan memiliki sentuhan alternatif rock. EP Rangkum Resah sudah tersedia dalam bentuk CD juga di berbagai platform musik digital.

Share:

Monday, 27 May 2019

Sambut Ramadhan Settosapo

Setelah sebelumnya ada D'Jail yang merilis single religi berjudul Taubatku, kini ada Settosapo, sebuah band asal Mamuju yang juga merilis single religi berjudul Sambut Ramadhan. Berbeda dengan Taubatku yang lebih bercerita tentang seorang hamba yang menyesali dosa-dosa yang telah diperbuat sebelumnya, Sambut Ramadhan lebih bercerita tentang suka cita menyambut bulan suci Ramadhan yang sudah sewajarnya dimanfaatkan dengan intensitas ibadah yang lebih banyak. Berbekal suara merdu sang vokalis wanita juga aransemen musik yang lebih poppie menjadikan lagu tersebut sangat nyaman untuk didengarkan. Sayangnya, single religi dari Settosapo ini hanya dirilis di radio-radio lokal Mamuju sehingga butuh usaha lebih untuk bisa mendengarkan lagu tersebut.

Hadirnya single religi yang dirilis oleh Settosapo juga meneruskan tren band lokal yang memanfaatkan momen tertentu untuk berkarya. Setelah sebelumnya banyak band-band lokal yang bermain di tema cinta, keresahan dan perlawanan yang biasanya digaungkan band-band underground, maka single religi dari D'Jail dan Settosapo makin memperkaya warna musik yang ada di Sulawesi Barat serta makin memantapkan stigma bahwa musik bisa menyentuh tema apa saja.
Share:

Friday, 24 May 2019

D'JAIL Kembali dengan Sebuh Single Religi



Pasang surut sebuah band adalah hal yang lumrah. Setelah awalnya semangat menggebu hingga akhirnya tiba di titik jenuh. Band yang telah lama berdiri tentunya sangat merasakan hal tersebut. Meski ada juga yang berhasil bangkit dan kembali menelurkan karya. D'jail misalnya. Band asal Polewali yang saat ini terdiri dari Hasan/Vokal, Ijonk/Gitar dan Wahyu/Bass. Terbentuk sejak tahun 2009, band ini menandai kembalinya mereka dengan sebuah single religi. 

Tobatku menjadi titik balik semangat mereka di usia yang sudah 1 dasawarsa, sebuah lagu yang menceritakan perasaan penuh dosa seorang hamba kepada Penciptanya dan berharap mendapatkan pintu taubat. Dosa-dosa yang kulakukan bagaikan buih di lautan. Kutobatkan padamu Tuhan siang malam ku kan memohon adalah dua penggal lirik yang kami anggap sebagai inti dari lagu tersebut. Dengan sentuhan gitar akustik dan bebunyian string yang dominan membuat lagu tersebut terasa sedikit eropa tapi juga memiliki sentuhan melayu. Mereka menamakan genre musiknya pop kreatif. Selain membuat lagu, mereka juga rutin membuat video cover-an. Lagu mereka sudah bisa didengarkan cuma-cuma di platform musik reverbnation juga kanal youtube mereka.
Share:

Friday, 26 April 2019

Berkenalan dengan Venomous dan Harapan merayakan Record Store Day di Sulawesi Barat



Untuk menciptakan skena musik yang sehat, dibutuhkan banyak unsur yang saling melengkapi. Selain para pelaku musik dalam hal ini band ataupun solois, dibutuhkan pula studio rekaman sebagai tempat merekam lagu-lagu para musisi yang nantinya akan disebarluas dalam bentuk audio, toko musik yang menyebarkan karya-karya mereka dalam bentuk rilisan fisik, gigs-gigs sebagai tempat mereka mempresentasikan karyanya dan tentunya pendengar sebagai penikmat karya. Setelah sebelumnya kami berbagi tentang sejumlah band yang patut didengarkan karyanya serta yang patut untuk dinantikan karyanya, kami akan berbagi informasi tentang satu-satunya toko musik yang ada di Sulawesi Barat, Venomous.

Venomous adalah toko musik yang menjual rilisan fisik serta merchandise band underground yang berdiri sejak 2011, meski nama Venomous sendiri baru dipatenkan pada tahun 2014. A.M. Rahmanuddin atau yang lebih dikenal dengan nama Nchoz sebagai pemilik Venomous mengatakan bahwa awalnya keberadaan Venomous banyak dicibir oleh masyarakat sekitar karena stigma musik keras sebagai musik penyembah setan yang sudah lama melekat. Hal ini diperparah dengan gaya berpakaian yang serba hitam dengan artwork kaos yang menyeramkan. Nchoz pun tak lelah meluruskan stigma tersebut sehingga akhirnya Venomous tetap mampu berdiri hingga sekarang meski sempat beberapa kali mati suri dan berpindah lokasi. Saat ini, Venomous melapak di Jln. Dewi Sartika no 35 Wonomulyo. Selain sebagai toko musik, Nchoz juga mampu berjejaring dengan baik dengan lingkungan sekitarnya terbukti dengan berdirinya komunitas Wonomulyo Death Metal Syndicate. Selain itu, Nchoz juga orang dibalik Celebes Extrem Music Compilation yang merupakan album kompilasi yang menjaring puluhan band keras terbaik se-Sulawesi. Meski Venomous adalah toko musik yang berfokus pada band-band underground tapi Venomous tetap terbuka dengan band genre lain yang mau bekerja sama dalam hal penggandaan Compact Disc (CD) dan pembuatan T-Shirt.

Beberapa waktu lalu tim R-Indie melakukan wawancara eksklusif dengan Nchoz via Whatsapp pribadinya yang saat itu sedang berada di Makassar dan ikut serta dalam Record Store Day Makassar. Berikut isi percakapannya.

  1. Menurut anda apakah saat ini skena musik di Sulawesi Barat sudah ada perubahan ke arah lebih baik? Ya. Menurut saya, perubahannya sangat banyak dan luar biasa. Terbukti dengan banyaknya band-band baru yang lahir serta karya-karyanya yang semakin beragam.
  2. Menurut anda apa alasan band-band maupun solois yang ada di Sulawesi Barat masih banyak yang belum merilis album fisik? Menurut saya itu dikarenakan masih kurangnya studio rekaman yang mumpuni serta ongkos produksi rilisan fisik yang lumayan mahal.
  3. Adakah kemungkinan skena musik di Sulawesi Barat menjadi lebih sehat dan semaju skena musik di daerah lain? Sangat mungkin. Istilah skena musik A lebih baik dibanding skena musik B kurang pas menurut saya. Tapi, harus diakui bahwa skena musik di Sulawesi Barat masih memiliki banyak pekerjaan rumah.
  4. Apa saja hal yang bisa dilakukan untuk membuat skena musik di Sulawesi Barat menjadi lebih baik? Event-event yang sudah ada harus tetap dijalankan tanpa perlu berharap banyak pada sponsor. Konsistensi dari band-band yang sudah ada juga diperlukan. Selain itu komunitas lain seperti photografi dan mural harus singkron dengan para pelaku musik demi terciptanya ruang lingkup seni yang baik dan saling menguntungkan. 
  5. Adakah kemungkinan Record Store Day bisa dirayakan di Sulawesi Barat pada tahun mendatang? Ada. Intinya kembali pada pelaku musik tersebut. 5-10 band yang rilis fisik sudah bisa membuat kita merayakan Record Store Day seperti di daerah lain. Semoga saja tahun depan mimpi ini bisa terlaksana.
Share:

Sunday, 21 April 2019

Band asal Sulawesi Barat yang Patut untuk Ditunggu Karyanya

Setelah sebelumnya kita telah membahas sejumlah band asal Sulawesi Barat yang patut untuk didengarkan, kali ini tim R-Indie akan membagikan informasi tentang Band-Band yang karyanya wajib ditunggu.
  • Settosapo. Band asal Mamuju yang baru saja tampil di Soundsations yang diadakan di Kota Pare-Pare ini masuk dalam daftar pertama. Settosapo merupakan band yang cukup tenar di daerahnya karena sering menjuarai festival-festival musik. Kabarnya mereka akan merilis sebuah lagu religi yang sangat jarang dilakukan oleh band-band lain.
  • Quovadis Rasta. Band reggae asal Polewali yang juga terpilih bermain di Soundsations Pare-Pare ini segera merilis single perdananya. Band ini juga punya nama dan pengalaman bermain di panggung-panggung musik di Polewali Mandar.
  • Eustasia. Band baru yang meneruskan gairah musik folk yang berkembang pesat di daerah lain ini akan segera hadir dengan single berjudul Tentang Malam. Dalam beberapa kesempatan, mereka sudah sempat membawakan lagu tersebut secara live di acara Teras Indie dan tur Fais Palintan yang diadakan di Mamuju.
  • Symphony. Band dengan vokalis cewek ini kabarnya telah merekam lagu mereka dan segera dirilis dalam waktu dekat. Mereka sudah cukup sering bermain di acara musik independen yang diadakan di Polewali Mandar seperti Zona Bunyi Gemakan Karya.
  • Rezki dan Varial Flip. Reski dan Varial Flip adalah sebuah proyekan minimalis akustik yang dilakukan oleh Rezki Jisefh vokalis dari Kaze dan Impossible serta Bakri sang frontman dari Varial Flip. Mereka sedang merekam lagu Merajai Hidupku dan sudah dibawakan live di Acara Teras Indie beberapa waktu yang lalu.
  • Monophonic. Band asal Majene yang yang lebih banyak bermain di daerahnya ini juga sedang merekam lagu mengikuti arus musik di Sulawesi Barat yang mulai berani membuat dan menampilkan lagu ciptaan mereka sendiri.
  • For Metamorfosis. Band yang satu ini sudah cukup sering bermain di acara musik independen seperti band lainnya. Dalam waktu dekat mereka akan merilis lagu yang selama ini sudah dibawakan secara live untuk diperdengarkan lebih luas di platform musik digital.




Share:

Saturday, 20 April 2019

Alasan Danilla Dicintai Muda-Mudi




Siapa yang tak kenal Danilla Riyadi? Penyanyi wanita yang telah menjajaki banyak panggung musik terkenal di Indonesia ini adalah nama yang sangat sulit untuk dilewatkan dalam daftar musisi yang wajib kita dengarkan karyanya. Lantas, apa saja alasan ia wajib masuk di dalam daftar? Mari kita bahas.

Danilla Jelita Poetri Riyadi atau yang lebih kita kenal Danilla Riyadi adalah Penyanyi Pop Jazz berusia 29 tahun yang memulai karir di tahun 2013. Album perdananya yang berjudul Telisik rilis pada 3 Maret 2014 dengan durasi 48 menit 37 detik dan terdiri dari 13 track lagu yang kebanyakan ditulis oleh Lafa Pratomo. Tahun 2017 Danilla kembali merilis album yang berjudul Lintasan Waktu. Bermodal dua album pop jazz yang easy listening dengan lirik yang kesastra-sastraan, Danilla kini mencapai popularitas dan nama besar.

Danilla memang berasal dari keluarga musisi. Darah musik menurun dari ibunya Ika Ratih Poespa dan dua pamannya Dian Pramana Poetra serta Henry Restoe Poetra yang merupakan penyanyi keroncong tahun ’60-an. 

Apakah hanya karena musikalitas dan suara merdunya sehingga banyak muda-mudi yang menyukai Danilla?

Menurut kami, tidak!



Setiap manusia punya sisi gelap, utamanya muda-mudi yang sedang dalam performa tinggi. Selagi masih muda kita wajib nakal sebelum tua datang dan membuat kita fokus ibadah. Kurang lebih seperti itulah motto hidup muda-mudi. Sistem moralitas Indonesia yang mewajibkan kita menampilkan sopan santun dan pribadi yang baik-baik sangat berseberangan dengan motto yang dianut muda-mudi. Dan, Danilla datang sebagai tokoh Dewi Perubahan. Jeigermaster woman ini menampilkan pribadi semau gue atau anti munafik-munafik klubSiapa yang tak tahu kalau Danilla adalah perokok dan gemar minum minuman beralkohol? Siapa yang tak tahu kalau Danilla senang mengumpat bahkan bicara kotor di depan umum dan terkadang di social medianya sendiri? Muda-mudi senang dengan semua itu. Jiwa bengal mereka merasa terwakilkan. Selain itu, wajah Danilla memang cantik dan berkulit putih yang menjadikannya masuk dalam golongan wanita yang layak dicintai.
Share:

Friday, 19 April 2019

Band asal Sulawesi Barat yang Patut Didengarkan versi R-Indie




Skena musik di Sulawesi Barat sudah semakin hidup. Ungkapan-ungkapan kami perlu lebih banyak gigs mulai kurang terdengar. Hal itu dikarenakan sudah semakin banyaknya event-event di gelar dan menggunakan jasa para pelaku musik lokal. Setelah nama-nama lama seperti Teras Indie dan Musik Taman, ada lagi nama-nama baru seperti Mae Fest dan Lapeo Bahari Festival. Belum lagi acara khusus seperti Assamaleuwang Rock Invasion, Burning Mamuju dan Freedom Concert yang membawahi band-band beraliran keras. Bahkan, Musisi luar pun mulai melirik dengan melakukan tur di Sulawesi Barat seperti yang dilakukan oleh Fais Palintan asal Pare-Pare yang memilih Polewali Mandar dan Mamuju sebagai tempat menyebarluaskan karyanya. Berangkat dari hal tersebut, tim Review Indie akan membagikan informasi mengenai band-band asal Sulawesi Barat beserta karyanya yang patut didengarkan oleh teman-teman pecinta musik.

  • Impossible – Jack of Yangin
Band asal Majene yang sudah cukup lama ini menempati urutan pertama dikarenakan prestasinya yang cukup mentereng. Jack of Yangin adalah single kedua mereka yang rilis tahun 2016 dan sangat direkomendasikan bagi teman-teman yang suka band keras dengan balutan elektro.
  • Kaze – Jiwa Petualang
Band asal Tinambung yang sedang naik daun dan cukup sering bermain diluar daerah ini menempati urutan kedua. Penulis memilih Jiwa Petualang yang merupakan karya terbaru mereka setelah sempat merilis mini album berjudul Perjalanan Masih Panjang. Lagu yang sangat cocok bagi teman-teman berjiwa muda yang memang senang bertualang. 
  • Alien Lokal - Terasingkan
Band beraliran grunge ini menghentak dengan lagunya yang berjudul Terasingkan. Bertemakan tentang pengucilan seseorang yang tak bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Sayangnya band asal Campalagian ini kabarnya sedang vakum.
  • Allface – Waktu yang Salah
Band dengan single Waktu yang Salah ini telah mendapatkan respon positif dari radio Milisi asal Makassar yang juga merupakan bagian dari tim Siasat Partikelir yang membawahi salah satu festival musik terkenal yaitu Rock in Celebes. Untuk teman-teman yang punya masalah percintaan, lagu ini masuk dalam daftar lagu yang wajib di dengarkan.
  • Varial Flip - Mama
Band Pop Punk yang namanya mulai diperhitungkan setelah bermain di Soundsations yang diadakan di Pare-Pare ini masuk dalam band muda yang cukup potensial. Lewat single berjudul Mama, pendengar akan merasakan sensasi keluhan seorang anak tentang kerasnya dunia kepada ibunya yang telah lama tiada dengan musik yang cenderung cepat.
  • Romantick – Dilema Hati
Lewat single berjudul Dilema Hati, Romantick masuk dalam daftar selanjutnya. Lagu yang bertemakan cinta ini bahkan sudah dibuatkan video klip dan dapat ditonton di channel youtube mereka.
  • Tendangan Bebas HC – Free Kick
Band hardcore lewat single Free kick ini masuk dalam daftar lagu wajib didengarkan terutama bagi mereka yang memang senang dengan musik underground. Tendangan Bebas termasuk ke dalam golongan band yang lebih sering manggung diluar daerah dibanding daerah sendiri.
  • Eroepsi – Polewali Mandar
Band baru yang cukup produktif ini mempunyai lagu yang sangat bernilai positif terutama dalam bentuk kecintaan mereka terhadap daerah sendiri. Lewat single Polewali Mandar mereka termasuk band yang patut didengarkan.
  • Serotonin – Sound of Cecilia
Dengan lirik berbahasa Inggris dan aransemen musik yang kebarat-baratan menjadikan lagu cinta mereka yang berjudul Sound of cecilia cukup terasa berbeda dan patut untuk didengarkan.
  • Drylips – Anime World
Band yang berani tampil berbeda dikarenakan karya-karyanya yang berbentuk aransemen musik tanpa vocal atau yang biasa disebut instrumental menjadikan Drylips dengan Anime World-nya wajib untuk masuk dalam daftar selanjutnya. 
  • Once Again – Patahkan Logika
Bagi teman-teman yang sering berputus asa maka lagu dari Once Again berjudul Patahkan Logika patut untuk didengarkan. Lewat lirik-lirik mereka yang mengajak untuk melawan pikiran negative menjadikan musik mereka bernilai positif. 
  • Toriny – Hianati
Band yang kabarnya sedang vakum ini masuk dalam daftar lewat lagunya yang berjudul Hianati. Lirik-lirik patah hatinya sangat cocok bagi teman-teman yang sedang dikhianati oleh kekasihnya.
  • Baleria - Biarkan Aku Sendiri
Band asal Mamuju dengan single Biarkan Aku Sendiri masuk dalam daftar band yang patut didengarkan selanjutnya. Masih bertemakan cinta dan sama seperti beberapa band lainnya mereka sudah memiliki video klip yang telah ditonton 1000-an orang di channel youtube mereka. 
  • The Posh – Cinta Sejati
Band yang menutup daftar band-band asal Sulawesi Barat yang patut didengarkan versi tim Review Indie ini wajib diperhatikan lewat single lagunya berjudul Cinta Sejati yang juga sudah memiliki video klip yang dapat ditonton di channel youtube mereka.

Bagi teman-teman yang sudah tak sabar mendengarkan lagu-lagu dari band-band di atas silahkan mengecek platform musik digital seperti Youtube, Reverbnation, Soundcloud, Spotify ataupun Joox.


Share: