Untuk menciptakan skena musik yang sehat, dibutuhkan banyak unsur yang saling melengkapi. Selain para pelaku musik dalam hal ini band ataupun solois, dibutuhkan pula studio rekaman sebagai tempat merekam lagu-lagu para musisi yang nantinya akan disebarluas dalam bentuk audio, toko musik yang menyebarkan karya-karya mereka dalam bentuk rilisan fisik, gigs-gigs sebagai tempat mereka mempresentasikan karyanya dan tentunya pendengar sebagai penikmat karya. Setelah sebelumnya kami berbagi tentang sejumlah band yang patut didengarkan karyanya serta yang patut untuk dinantikan karyanya, kami akan berbagi informasi tentang satu-satunya toko musik yang ada di Sulawesi Barat, Venomous.
Venomous adalah toko musik yang menjual rilisan fisik serta merchandise band underground yang berdiri sejak 2011, meski nama Venomous sendiri baru dipatenkan pada tahun 2014. A.M. Rahmanuddin atau yang lebih dikenal dengan nama Nchoz sebagai pemilik Venomous mengatakan bahwa awalnya keberadaan Venomous banyak dicibir oleh masyarakat sekitar karena stigma musik keras sebagai musik penyembah setan yang sudah lama melekat. Hal ini diperparah dengan gaya berpakaian yang serba hitam dengan artwork kaos yang menyeramkan. Nchoz pun tak lelah meluruskan stigma tersebut sehingga akhirnya Venomous tetap mampu berdiri hingga sekarang meski sempat beberapa kali mati suri dan berpindah lokasi. Saat ini, Venomous melapak di Jln. Dewi Sartika no 35 Wonomulyo. Selain sebagai toko musik, Nchoz juga mampu berjejaring dengan baik dengan lingkungan sekitarnya terbukti dengan berdirinya komunitas Wonomulyo Death Metal Syndicate. Selain itu, Nchoz juga orang dibalik Celebes Extrem Music Compilation yang merupakan album kompilasi yang menjaring puluhan band keras terbaik se-Sulawesi. Meski Venomous adalah toko musik yang berfokus pada band-band underground tapi Venomous tetap terbuka dengan band genre lain yang mau bekerja sama dalam hal penggandaan Compact Disc (CD) dan pembuatan T-Shirt.
Beberapa waktu lalu tim R-Indie melakukan wawancara eksklusif dengan Nchoz via Whatsapp pribadinya yang saat itu sedang berada di Makassar dan ikut serta dalam Record Store Day Makassar. Berikut isi percakapannya.
- Menurut anda apakah saat ini skena musik di Sulawesi Barat sudah ada perubahan ke arah lebih baik? Ya. Menurut saya, perubahannya sangat banyak dan luar biasa. Terbukti dengan banyaknya band-band baru yang lahir serta karya-karyanya yang semakin beragam.
- Menurut anda apa alasan band-band maupun solois yang ada di Sulawesi Barat masih banyak yang belum merilis album fisik? Menurut saya itu dikarenakan masih kurangnya studio rekaman yang mumpuni serta ongkos produksi rilisan fisik yang lumayan mahal.
- Adakah kemungkinan skena musik di Sulawesi Barat menjadi lebih sehat dan semaju skena musik di daerah lain? Sangat mungkin. Istilah skena musik A lebih baik dibanding skena musik B kurang pas menurut saya. Tapi, harus diakui bahwa skena musik di Sulawesi Barat masih memiliki banyak pekerjaan rumah.
- Apa saja hal yang bisa dilakukan untuk membuat skena musik di Sulawesi Barat menjadi lebih baik? Event-event yang sudah ada harus tetap dijalankan tanpa perlu berharap banyak pada sponsor. Konsistensi dari band-band yang sudah ada juga diperlukan. Selain itu komunitas lain seperti photografi dan mural harus singkron dengan para pelaku musik demi terciptanya ruang lingkup seni yang baik dan saling menguntungkan.
- Adakah kemungkinan Record Store Day bisa dirayakan di Sulawesi Barat pada tahun mendatang? Ada. Intinya kembali pada pelaku musik tersebut. 5-10 band yang rilis fisik sudah bisa membuat kita merayakan Record Store Day seperti di daerah lain. Semoga saja tahun depan mimpi ini bisa terlaksana.


