Friday, 10 August 2018

ROMANTICK

Kami mungkin menjadi salah satu band  jika tak bisa disebut satu-satunya yang masih setia dengan genre Japanese Rock  yang berasal dari Sulawesi Barat.



Namanya Romantick, band asal Kabupaten Majene yang sudah terbentuk sejak 2012. Band yang dulu sering mengikuti festival musik dan berhasil mendapat beberapa penghargaan ini sedikit banyak telah berubah seiring umur band mereka yang juga terus bertambah. Sebagai grup band mereka mulai membentuk jati diri mereka dengan membuat lagu ciptaan sendiri. Terhitung hingga pertengahan 2018 ini, mereka sudah membuat 5 buah lagu yang terdiri dari Masih menginginkanmu, Dilema hati, Ku ingin bernyanyi, Ampuni Aku dan Berharap Jawaban. Bahkan band yang terdiri dari Adhe (bassis), Masdar hamka (gitaris), Ichie (vokalis) dan Celoe (drummer) ini baru saja merilis video klip dari lagu Dilema Hati yang bekerja sama dengan Galeri Mandar Production dalam proses pembuatannya. Hingga tulisan ini di muat, video klip mereka sudah ditonton sebanyak 1.417x di kanal youtube mereka. 


Untuk melihat video klip pertama mereka bisa klik link ini : https://youtu.be/TI8TJ65-U94

Saat ditanya soal proses penyebaran lagu mereka, Ichie sang vokalis berkata bahwa mereka saat ini menyebarkan lagu mereka lewat HMII (Himpunan Musisi Indie Indonesia) yang terkhusus di Jakarta tapi sudah mencakup seluruh musisi indie di seluruh indonesia 

Kedepannya tentu kami berharap bahwa Romantick akan melakukan rilisan fisik dan memantik penggiat musik di Sulawesi Barat untuk lebih bergelora dan tentunya tetap kondusif.
Share:

Monday, 6 August 2018

PERUBAHAN ARAH ANGIN BAND INDIEPENDENT


Setahun belakangan terdengar riak-riak kecil dari band yang mengatasnamakan indiependent. Dari yang bergerak “sendiri-sendiri” hingga akhirnya bertemu dan membentuk gigs kolektifan. Dari yang perlahan-lahan memainkan 1 buah lagu hingga 3 bahkan 4 lagu. Dari pergerakan awal Teras Indie di 2016 yang dimulai oleh Kaze dan Aksi Madewa yang memainkan lagu mereka sendiri hingga munculnya Zona Bunyi Merdekakan Karya di 2017, dan yang terbaru Zona Bunyi Gemakan Karya dan Teras Indie Mamuju di 2018 dengan line up yang lebih banyak. Terhitung, sudah lumayan banyak band-band baru yang mengatasnamakan Indie seperti Once Again, Toriny, For Metamorfosis, Varial Flip, Serotonin, Symphony, Alien Lokal dan Starlight. Juga, munculnya beberapa solois seperti Ian Ms dan Awal. Belum lagi, band-band lama seperti Impossible, Rotten Sickness, TBHC dan Allface. Bisa dibilang, perlahan tapi pasti virus berindie-ria sudah masuk hingga ke Sulawesi Barat sebagai perpanjangan tangan dari makin banyaknya band-band keren di Provinsi lain yang bermain diluar wilayah label major. Musikmaniapun seakan sudah beralih dari kebiasaan dicucuki music yang "harus begini" oleh label major. 

Makin banyaknya band indie yang muncul di Sulawesi Barat tentu makin melambungkan asa untuk mendapatkan lebih banyak tempat memperdengarkan karya-karya mereka di daerah sendiri. Selain acara-acara kolektifan, sudah saatnya mereka mendapatkan peluang bermain dihadapan lebih banyak pendengar. Sudah saatnya memperbanyak festival music nonkompetisi seperti Assamaleuwang Rock Invasion. Sudah saatnya radio-radio local memperbanyak interview tentang band indie local. Sudah saatnya memberdayakan label-label rekaman local. Daaaan, melihat Kaze yang mendapat undangan dan bisa bermain di acara sekelas Polewali Mandar International Folk and Art Festival (PIFAF) tentu mejadi secercah harapan. Harapan bahwa kedepannya akan lebih banyak sorotan kepada pelaku music indie. Apalagi, dengan semakin seringnya band-band indie diberi ruang memperdengarkan karyanya tentu akan membangun stigma di kalangan masyarakat bahwa pelaku music local juga punya karya yang baik.




Perubahan arah angin yang didapatkan oleh band indiependent saat ini diharapkan mampu membangun iklim musik yang lebih positif lagi kedepannya. Masih minimnya record store : jika tak mau dibilang tak ada, tentu menjadi salah satu contoh bahwa apa yang ada saat ini belumlah maksimal. 

Share: