Bersama berkarya bebas adalah sebuah pergerakan yang berasal dari Sulawesi Selatan yang menaungi segala bentuk seni baik itu gambar maupun suara. Bisa dilihat dari setiap kegiatannya yang mampu menginisiasi para pelaku mural, pelaku musik hingga videografi. Mereka mampu menjadi sebuah kesatuan yang solid. Tentunya, ini masih berbeda jauh dengan kita yang berdomisili di Sulawesi Barat. Belum ada komunitas mural. Videografi pun masih cenderung angin-anginan. Sedikit ada harapan untuk pelaku musik dengan mulai adanya gigs-gigs yang mereka buat secara bersama-sama. Tapi, belum sepenuhnya. Masih tercium bau-bau egoisme atau mungkin malu untuk menjadi seutuhnya dengan berbaur sesama pelaku musik.
Hari ini (kemarin) , Bersama Berkarya Bebas mengadakan sebuah workshop bertema Mensiasati Industri Musik di Era Modern dengan pemateri Iga Massardi dari Barasuara. Barasuara adalah salah satu band skala nasional yang kerap dianggap sebagai salah satu band Indie paling sukses saat ini. Namun, Iga Massardi menolak anggapan tersebut. Menurutnya, Indiependent itu adalah sebuah cara, dimana sebuah band mengerjakan semua hal baik itu rekaman, membuat album hingga distribusi dilakukan oleh mereka sendiri. Berbeda dengan Barasuara yang memiliki manajer untuk urusan distribusi album dan menggaet sponsor serta label untuk urusan rekaman. Tapi, untuk urusan selera musik dan seperti apa lagu yang mereka buat sepenuhnya ditentukan oleh para personil Barasuara sendiri. Kemudian saat ditanya persoalan bagaimana cara membuat band agar tetap bertahan di tengah arus musik yang sering berubah-ubah, Iga menjawab, "Jangan ikut-ikutan tapi adaptasi." Adaptasi maksudnya adalah dengan memasukkan musik yang saat ini tren (misal folk) dengan musik yang selama ini jadi ciri khas band kita, bukan malah berganti genre. Ada juga yang bertanya tentang masalah yang paling sering diperbincangkan oleh pelaku musik yang mulai berkarya, "Bagaimana cara membuat lagu yang disukai pasar tapi juga mampu mewakili apa yang kita rasakan? Dalam artian pendengar dapat idealisme kami juga dapat. " Iga menjawab, "Pasar itu yang mana sih? Ada yang bisa ngasi saya artian yang sedetail mungkin? Dari persoalan kelamin hingga jenjang umur?" Begini, persoalan pendengar itu apapun genre band anda pasti bakal ada yang dengar dan suka. Bikin saja lagunya. Jangan mikir macem-macem. Kalau musikmu berkualitas, bakal banyak yang suka kok.
Mensiasati Industri Musik di Era Modern. Seperti yang kita tahu, saat ini platform musik digital sedikit banyak telah menggeser musik dalam bentuk rilisan fisik. Joox, I-tunes, spotify dan sejenisnya sudah hampir ada di setiap ponsel pemuda-pemudi untuk memenuhi ketergantungan mendengarkan musik setiap harinya. Lantas, perlukah kita melupakan rilisan fisik dan fokus pada distribusi musik digital? Distribusi musik digital tentu lebih ekonomis. Tapi, selalu ada kesenangan sendiri jika memiliki rilisan fisik. Lebih mudah juga untuk berbagi kepada mereka yang gagap teknologi, tutup Iga.
Semua gambar berasal dari akun Bersama Berkarya Bebas.


