Saturday, 5 January 2019

BAND INDIE DI PANGGUNG INDIE

2018 adalah tahun dimana band independen di Sulawesi Barat meng-ada-kan dirinya. Gigs-gigs mampu mereka buat tanpa bantuan korporat maupun pemerintah daerah. Beberapa band-band independen baru bahkan terbentuk menyusul band-band independen yang lama. Sebut saja School is Damn dan Eustasia. 

Selayaknya label independen atau biasa dikenal indie yang mereka anut, mereka mampu berdiri sendiri dan menciptakan ruang-ruang tersendiri. Konser Zona Bunyi yang jadi ajang tahunan dan Teras Indie yang diadakan pertengahan dan akhir tahun adalah hasil dari kemampuan mereka berdiri diatas kaki sendiri. Menciptakan wadah dalam menyuarakan karya. Belum lagi Distorsi Pesisir yang kembali hadir setelah setahun absen. Namun, apa yang sudah ada terasa belum cukup. 4 buah acara yang digarap di tahun yang sama belumlah cukup. Satu-satunya jalan adalah membuat lebih banyak.

Keseruan Teras Indie di Penghujung Tahun 2018

Tahun baru adalah waktu terbaik dalam merencakan hal-hal yang perlu dikerjakan kedepannya. Tahun baru  tentu harus diikuti semangat baru serta gerakan yang baru dan tentu saja pola pikir yang baru. Pola pikir tentang ruang kreatif harus selalu megah sudah saatnya diubah. Panggung konser yang baik adalah rig seukuran 12x10 meter sudah bukan lagi satu-satunya tolak ukur. Siasat Partikelir bahkan membuat contohnya dengan sesi bedroom gigs sebagai bagian dari The Other Festival. Dua buah ruang meeting disulap menjadi ruang pertunjukan bertemakan kamar tidur dan hanya memuat 40 orang. Dengan tata panggung dan kualitas rekaman yang baik, hasilnya luar biasa. Menjadikannya salah satu "panggung" alternatif yang sangat menarik dan intim. 

Potret Iksan Skuter yang diambil dari artikel The Bedroom Gigs : Season 01 Siasat Partikelir
Selain ide-ide pemanfaatan ruang terbatas seperti bedroom gigs, acara musik bertemakan alam-pun bisa jadi solusi untuk kurang banyaknya gigs yang ada di Sulawaesi Barat. Di Makassar ada Musik Hutan yang digelar tiap tahun. Ada Musik Taman yang diinisasi pemerintah Kota Makassar. Atau di Sulawesi Barat sendiri sudah disebutkan tentang Distorsi Pesisir. Jadi, tempat bukanlah masalah melainkan ide dan semangat bergerak. Tour mandiri keluar daerah juga bisa jadi solusi. Selain menambah jam terbang, juga bisa menambah relasi.

Pertanyaan tentang mampu tidaknya panggung indie memuaskan band indie Sulawesi Barat di tahun 2019 akan kembali ke pribadi band itu sendiri. Apakah mereka mampu membuat gigs lebih intensif dibanding tahun lalu? Apakah mereka mau dan berani melakukan tur mandiri ke luar daerah untuk menyiasati minimnya panggung di daerah sendiri? 
Share: